*CIREBON THE GATE OF SECRET 2013*

"Visit Cirebon 2014,

(Cirebon punya cerita)
Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, Makam Sunan Gunung jati, Gua Sunyaragi, Masjid Sang Ciptarasa, Batik Trusmi, Bangunan Cagar Budaya, Tari Topeng, Sintren, Lukisan Kaca, Batik Trusmi, Nasi Jamblang, Empal Gentong, Nasi Lengko, Tahu Gejrot, Mie Koclok, Sate Kalong, Dan masih banyak lagi...

PLESIR WISATA GROUP (Cirebon)

PLESIR WISATA GROUP (Cirebon)

SEJARAH CIREBON

Asal kota Cirebon ialah pada abad ke 14 di pantai utara Jawa Barat ada desa nelayan kecil yang bernama Muara Jati yang terletak di lereng bukit Amparan Jati. Muara Jati adalah pelabuhan nelayan kecil. Penguasa kerajaan Galuh yang ibu kotanya Rajagaluh menempatkan seorang sebagai pengurus pelabuhan atau syahbandar Ki Gedeng Tapa. Pelabuhan Muara Jati banyak di singgahi kapal-kapal dagang dari luar di antaranya kapal Cina yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat, yang di perdagangkannya adalah garam, hasil pertanian dan terasi.

Kemudian Ki Gendeng Alang-alang mendirikan sebuah pemukiman di lemahwungkuk yang letaknya kurang lebih 5 km, ke arah Selatan dari Muara Jati. Karena banyak saudagar dan pedangan asing juga dari daerah-daerah lain yang bermukim dan menetap maka daerah itu di namakan Caruban yang berarti campuran kemudian berganti Cerbon kemudian menjadi Cirebon hingga sekarang.

Raja Pajajaran Prabu Siliwanggi mengangkat Ki Gede Alang-alang sebagai kepala pemukiman baru ini dengan gelar Kuwu Cerbon. Daerahnya yang ada di bawah pengawasan Kuwu itu dibatasi oleh Kali Cipamali di sebelah Timur, Cigugur (Kuningan) di sebelah Selatan, pengunungan Kromong di sebelah Barat dan Junti (Indramayu) di sebelah Utara.

Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat kemudian digantikan oleh menantunya yang bernama Walangsungsang putra Prabu Siliwanggi dari Pajajaran. Walangsungsang ditunjuk dan diangkat sebagai Adipati Carbon dengan gelar Cakrabumi. Kewajibannya adalah membawa upeti kepada Raja di ibukota Rajagaluh yang berbentuk hasil bumi, akan tetapi setelah merasa kuat meniadakan pengiriman upeti, akibatnya Raja mengirim bala tentara, tetapi Cakrabumi berhasil mempertahankannya.

Kemudian Cakrabumi memproklamasikan kemerdekaannya dan mendirikan kerajaan Cirebon dengan mamakai gelar Cakrabuana. Karena Cakrabuana telah memeluk agama Islam dan pemerintahannya telah menandai mulainya kerajaan kerajaan Islam Cirebon, tetapi masih tetap ada hubungan dengan kerajaan Hindu Pajajaran.

Semenjak itu pelabuhan kecil Muara Jati menjadi besar, karena bertambahnya lalu lintas dari dan ke arah pedalaman, menjual hasil setempat sejauh daerah pedalaman Asia Tengara. Dari sinilah awal berangkat nama Cirebon hingga menjadi kota besar sampai sekarang ini.

Pangeran Cakra Buana kemudian membangun Keraton Pakungwati sekitar Tahun 1430 M, yang letaknya sekarang di dalam Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon.
(mengenal kasultanan kasepuhan cirebon)

Sabtu, 02 Maret 2013

Candi, Diduga Peninggalan Kerajaan Japura. Cirebon

ASTANAJAPURA – Disbudparpora Kabupaten Cirebon akan meminta bantuan arkeolog Bandung untuk memeriksa dan mengamati, serta menyimpulkan apa sebenarnya benda yang ditemukan oleh warga Desa Kanci Kulon, Kecamatan Astanajapura yang dua hari ini cukup menggemparkan warga. Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Dinas Budaya, Pariwisata dan Olahraga (Sekdisbudparpora), Made Casta MPd kepada Radar saat dihubungi via ponselnya, kemarin (23/11).
Pihaknya juga sudah mengutus Kabid Budaya untuk melihat secara langsung lokasi penemuan cagar budaya di Desa Kanci Kulon, Kecamatan Astanajapura. “Belum bisa memastikan apa sebenarnya bangunan tersebut. Oleh karenanya, kami akan mengundang arkeolog dari Bandung,” paparnya.
Menurut dia, apabila dilihat dari kacamata histori, bangunan tersebut merupakan peninggalan kerajaan Japura yang diperkirakan berkembang sebelum Kesunanan Gunung Jati. “Apabila melihat lokasinya, di sana pernah muncul peradaban Kerajaan Japura, yakni salah satu kerajaan tertua di Cirebon,” ujar Made.
Untuk mengamankan lokasi penemuan bangunan dari tindak kejahatan pencurian benda-benda purbakala, ia meminta pihak kepolisian untuk mengamankan lokasi dengan membentangkan police line. “Agar benda-benda yang ditemukan di sekitar bangunan tersebut tidak tercecer,” imbuhnya.
Terpisah, Ketua Karang Taruna Desa Kanci Kulon, Wartoni mengatakan, sebelum ditemukan bangunan ini, dahulu lokasi ini banyak pohon-pohon besar dan banyak semak belukar. Kemudian, pada tahun 2008, pohon-pohon besar tersebut ditebang dan hanya 1 pohon yang tetap dibiarkan karena dianggap pohon tersebut adalah pohon keramat, dan pohon tersebut bernama pohon salam. Kemudian pada tahun 2009 dibersihkan oleh para pemuda untuk dijadikan lapangan bola.Tapi akhirnya gagal, karena menurut orang tua di daerah tersebut memiliki kekuatan magis yang besar, sehingga para pemuda mengurungkan niatnya. “Makanya, sekarang saya kaget kalau di lokasi tersebut ada penemuan bangunan purbakala,” katanya.
Berdasarkan pantauan Radar, secara sukarela masyarakat segara bergantian menggali tiap sisi bangunan yang ditemukan tersebut. Pada kedalaman 1,3 meter bentuk bangunan sudah nampak terlihat seperti pondasi pendopo. Meski rintik hujan menyirami kawasan tersebut, tak menyurutkan langkah warga sekitar untuk terus menggali guna mengungkap teka-teki apa sebenarnya bangunan tersebut. “Kami penasaran akan bangunan ini,” ujar Salim, warga sekitar yang ikut gotong royong menggali tanah.
Poskan Komentar